Sabtu, 18 September 2010

Tembakau Di Sindoro Sumbing

Temanggung - Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah dikenal sebagai daerah penghasil tembakau. Dari lereng pegunungan Sumbing dan Sindoro itu, tumbuh tembakau-tembakau terbaik untuk industri rokok kretek di Indonesia.
Dalam hawa sejuk pegunungan, budidaya tembakau menjadi penggerak roda ekonomi Temanggung. Ada ribuan petani yang hidup dari tanaman itu. Ada buruh pemelihara tanaman, buruh petik, buruh angkut, buruh rajang, pembuat keranjang hingga para grader atau juragan tembakau yang jadi pemasok pabrikan.

Namun menurut beberapa orang petani di Temanggung, bisnis tembakau itu gampang-gampang susah. Ancaman dan musuh utamanya adalah cuaca buruk atau hujan turun terus menerus menjelang panen. Sebab tanaman tembakau hanya bisa hidup jika musim kemarau dan tidak tahan air. Bila hujan turun, rusaklah daun tembakau yang siap panen itu.

"Bulan Agustus seharusnya sudah musim panas dan masa awal panenan, tapi nyatanya masih turun hujan. Cuaca ekstrem seperti ini yang jadi momok bagi petani," ungkap Subakir (45) salah seorang petani tembakau di Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (31/8/2010).

Menurut dia, cuaca ekstrem seperti saat ini pernah terjadi pada tahun 2005 yang mengakibatkan petani banyak mengalami kerugian. Pada tahun 2005 hujan turun terus menerus sepanjang bulan Juli hingga September. Akibatnya rajangan tidak kering secara sempurna atau maksimal. Para petani berharap selama dua hari ke depan atau memasuki mangsa ketelu (ketiga-red) berdasarkan perhitungan Jawa adalah musim panas.

"Kalau cuaca panas terus ya untung, tapi kalau turun hujan ya buntung (rugi-red). Ancaman gagal panen itu bisa 50 persen bila cuaca buruk. Kita berharap bisa lebaran nanti," katanya.

Subakir mengatakan penanaman dimulai dengan mengolah tanah atau kebun yang sebelumnya ditanami palawija, cabe ataupun bawang merah. Sedang varietas tembakau yang ditanam adalah jenis Kemloko 1 dan 2 yang paling cocok di wilayah itu. Meski ada juga varietas lain seperti varietas Boyolali, Bligon, Kenanga dan Grompol.

"Yang paling cocok adalah Kemloko 1 dan 2," katanya.

Para petani menginvestasikan puluhan juta rupiah untuk penanaman tembakau. Satu hektar kebun tembakau butuh dana sekitar Rp 40 juta-50 juta. Dana sebesar itu dibutuhkan untuk biaya pengolahan lahan, pemeliharaan seperti pupuk, hingga panenan.

"Satu hektar bisa menghasilkan sekitar 8 kuintal tembakau kering. Untuk panenan awal ini tembakau masih dengan grade/kualitas A-C dengan harga jual berkisar Rp 50 ribu-100 ribu/kg," kata Subakir yang juga Kepala Desa Legoksari itu.

Uang untuk itu biasanya diambil dari tabungan yang berwujud perhiasan emas. Tidak banyak petani yang menyimpan uangnya di bank dengan alasan terlalu merepotkan. Petani akan ke bank bila menerima pembayaran hasil penjualan tembakau dalam bentuk uang cek. Saat akan menanam, harta benda berupa emas itu dijual. Mereka akan membeli emas kembali bila hasil panenan untung.

Sementara itu Agus Parmuji salah satu anggota Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) menambahkan budidaya tembakau telah menggerakkan roda perekonomian di Temanggung dan sekitarnya. Keuntungan dari bisnis ini tidak hanya dinikmati oleh para petani, grader dan juragan pemasok tembakau ke pabrikan saja. Warga kabupaten di sekitar Temanggung juga turut menikmatinya.

Mereka ada yang menjadi buruh petik, buruh angkut hingga tukang sortir/pilih daun tembakau sebelum dirajang. Adalagi pengrajin keranjang tembakau yang terbuat dari bambu dan pelepah daun pisang. Satu keranjang tembakau dijual Rp 60 ribu. Rata-rata setiap desa membutuhkan 4 ribu-5 ribu keranjang selama musim panen.

"Sedangkan yang ngerayat atau bekerja sebagai buruh di rumah saya ini sebagian besar adalah orang dari Wonosobo dan Banjarnegara," ungkap Agus.

Menurut dia, mereka baik laki-laki maupun perempuan dewasa sengaja datang menjadi buruh setiap musim panen tembakau tiba. Mereka akan bekerja selama hampir 2 bulan di rumah milik para petani. Setiap rumah ada 2-4 orang buruh baik menjadi buruh petik, rajang dan angkut. Upah yang diterimanya berkisar Rp 30 ribu/hari.

"Makan tiga kali sehari kita yang nanggung. Tempat untuk tidur sudah kita siapkan. Menu makanan juga sama. Kalau keluarga kami makan untuk sahur dan buka dengan nasi jagung, menu mereka juga sama. Nggak ada yang beda," kata Agus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar